Sunday, 30 March 2014

Introducing My 'Coraline' Side

Saya termasuk salah satu orang beruntung -atau tidak, terserah- yang memiliki kelebihan atau 'gift' yang menjadikan saya salah satu diantara banyak orang untuk mampu lebih sensitif terhadap 'the unseen presence'. Karunia ini saya miliki sejak kecil dan pada akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan dan keseharian saya yang tidak biasa.
Berbeda dengan kehidupan orang lain yang memiliki kemampuan serupa, untungnya -seingat saya- tidak ada seorang pun yang pernah menganggap saya aneh atau gila karena kemampuan saya, mungkin karena cerita-cerita seram justru menjadi topik yang seru selama bergaul dengan teman-teman.
Secara pastinya saya tidak tahu bagaimana dan kapan saya memiliki kemampuan ini, yang jelas Papa dan Daddy-nya Mama memiliki kemampuan yang serupa. Berbedanya lagi dengan mereka, saya adalah tipe orang yang moody dalam urusan nyali. Kenapa? Karena kalau dipikir-pikir, saya ternyata penakut, Mblo ! :-/ Saya sering hysteria ketakutan meskipun banyak orang di sekitar saya, sedangkan ketika lagi 'berani-beraninya', tidak ada orang secuil pun saya santai aja meski harus melihat kepala terbang melayang dengan rambut putih melambai-lambai.

Hiiiiiii...!!!


Hahaha, tapi itulah saya!
Biasanya orang dengan kemampuan seperti ini tidak lagi mengenal rasa takut, kemungkinan terjelek paling cuma kaget sampai serangan jantung (^^)
Orang pertama yang menyadari kemampuan saya adalah kedua ortu saya tercinta. Ya, Papa dan Mama! Mereka sering cerita kalau waktu kecil saya sering kali menghadap ke jendela dan berbicara atau  bermain-main selayaknya orang yang sedang tidak sendirian. Dengan sangat khawatir dan ketakutan, Mama memanggil Papa untuk menengok saya. Ortu saya hanya mengintip dan dengan santainya Papa bilang "Biarkan, dia memang main sama temannya". "What?" Mama cuma bisa terperanjat dan kemudian mereka meninggalkan saya dengan 'teman' saya.
Tidak banyak hal spesial dalam pengalaman saya selain ditakut-takutin [ya memang karena saya jadi penakut belakangan ini], kaget, meso-meso alias mengumpat -ngomong-ngomong, saya lagi belajar mengumpat dalam banyak bahasa, nanti kapan-kapan saya posting- , dan kadang berkomunikasi dengan mereka.
Sudah banyak yang saya lupakan, tapi yang paling lucu adalah ketika saya dan adik kuliah di Malang, lalu mengontrak rumah di kawasan yang ramai dan hanya berjarak 2 rumah dari jalan raya, jauh dari kesan angker atau berhantu. Rumahnya terkesan Homey meski tidak terlalu bagus dengan model jaman kuno berpadu dengan hiasan batu-batuan, hampir sama dengan desain rumah-rumah kuno yang banyak bertebaran di kawasan Malang atau Bandung. Rumahnya berpagar hijau, banyak tanaman hias di halaman hasil dari hobi berkebun Mama meskipun dia tidak tinggal bersama kami, dan di dalam tengah-tengah rumah juga ada taman yang cukup besar sayangnya ditutup paving oleh sang empunya rumah. Saat memasuki area depan, aksesnya adalah pintu garasi -juga berwarna hijau soft seperti telur asin- dan pintu utama yang berjejer dengan jendela besar seperti etalase yang full menutup area itu -nyaris tidak berdinding-. Rumah yang aneh menurut saya karena makin ke belakang terutama mengarah ke taman dalam dan dapur akan banyak melalui tiang-tiang -Lha kok kayak Rumah Sakit- (-.-")
Malam pertama menempati rumah itu, saya tidur sendirian di kamar pribadi saya. Saya melihat Mama tiba-tiba tertidur di samping saya, dan saya sempat mengarahkan pandangan ke jendela kamar karena seperti ada pergerakan dari sana.

Nothing.

Tidak ada apa-apa, hanya saja tiba-tiba banyak kabut tebal seperti di daerah pegunungan atau seperti kalau rumah lagi di-fogging untuk ngilangin nyamuk Aedes Aegepthy [bener gak nih tulisannya?] Saya balikkan badan dan mencoba kembali tidur.

Tapiii...

Saya menangkap lagi sekelebat bayangan di jendela seperti mengintip dan dia akan menunduk kalau saya melihat ke arahnya.

Mathefakka! Ini pasti maling!

Dengan hati-hati, saya celingukan lagi di jendela.

Nothing.

Fu*k! Ini maling belajar ilmu ninja dimana?

Tiba-tiba Mama bangun dan bertanya "Ada apa?". Saya jawab, "Gak tau, Ma. Kayaknya ada orang deh, takutnya maling..." Mama kembali ngorok dengan pulasnya karena tidak kuat menahan kantuk. Grok grok grok. Persis suara orang nyapu-nyapu atau ngaduk semen. Saya berbalik badan lagi ingin kembali meneruskan mimpiin cowo ganteng, saat tiba-tiba..

Ada sepasang tangan bergelantungan di jendela saya, hanya dengan jari-jarinya yang terlihat.

Gotcha! I Got U, Ling... Maling! Tak bikin ngupil entar jarimu! Geraaaam!!

Kembali saya menghampiri tuh maling dan bersembunyi di bawah jendela untuk mengagetkannya.

HA!

Kagetnya saya ketika si maling ini tiba-tiba menampakkan kepalanya dan berwujud sosok ibu-ibu lengkap dengan roll rambut seperti emak-emak yang mau tidur dengan masker putih atau kuning menutupi wajahnya. Dan...
Wajahnya PERSIS tante saya yang tinggal di Ambon!

"TANTE! Ngapain disini? Dasteran pulak?! Minggat, Te? Niat banget minggat dari Ambon ke Malang..."

Belum selesai meneruskan omongan, tiba-tiba sosok itu mencekik leher saya dan meracau dengan kata-kata yang susah saya mengerti. Gak tau ngomong apaan. Sabar, nanti saya kursus bahasa persetanan dulu yah! Biaya kursusnya 15.000 daun kering kan? Ok, banyak! Saat itu juga saya mengerti kalau sosok ini bukan manusia.

Sesak.

Gak bisa napas.

Panas.

Hilfen!

Tidak tau setannya setan mana lagi yang merasuki saya, tapi langsung terbersit di pikiran saya 'Saya Harus Membela Diri!' Saya obrak abrik roll-roll'an rambutnya. Semakin saya acak-acak, semakin panik dia. Haha! Sekuat tenaga saya obrak abrik roll rambutnya dan sosok ini makin bingung dengan satu tangan mencekik leher saya dan tangan satunya sibuk membetulkan roll rambut yang acak-acakan. Hantu ternyata takut make up rusak juga rupanya! XD Setan apa pula yang merasuki saya lagi, bukan semakin takut tapi semakin timbul niat jahat buat usilin sang hantu. Setengah jijik dan iseng, saya masukkan jari telunjuk dan jari tengah ke dua buah lubang hidungnya. Ekspresinya?

Dia melotot ke arah saya dengan tatapan yang menyeramkan.

Manjur! Dia langsung melepaskan satu tangannya yang mencekik leher saya, menepis jurus colokan hidung PatKay saya, kemudian Puffh, hilaaaaaang!
Tiba-tiba saya terbangun dengan cucuran keringat, napas tersengal-sengal, dan memar di leher.

Mimpi!

Yes, Beibeh! Its just a weirdo dream.

Tapi itu bukan mimpi biasa.
Sebenarnya ada satu hal unik yang sering saya alami ketika pindah rumah, kost, kontrakan selama saya kuliah di Malang, yaitu biasanya hari pertama saya akan mendapat mimpi dari beliau-beliau penunggu rumah tersebut. Ada yang kocak, ada yang menyeramkan. Ada sosok yang menakutkan, ada juga yang ganteng ngalah-ngalahin artis Hollywood.

Yap!

Itulah dunia saya, yang saya sebut dunia Coraline. Seperti judul film Coraline tentang anak yang tidak puas dengan kehidupannya di dunia nyata, dan ketika dia mendapat kepuasan di dunia lain, dia baru saja menyadari betapa bersyukurnya memiliki hidup... yang nyata.
Saya banyak ketidakpuasan dalam hidup, tapi saya mau hidup dengan orang yang sebenar-benarnya -Orang Beneran-


Hahahahahaha!

Tuesday, 23 October 2012

Filosofi Space Dementia

Hi!! :)
mungkin banyak diantara kawan-kawan yang belum mengerti tentang "Space Dementia"
kenapa juga aku suka banget sama kata-kata ini (-_-?)
sejujur-jujurnya kacang ijo, aku juga belum ngerti bener apa yang dimaksud space dementia. tapi aku punya interpretasi sendiri loooohhh... *tyus, gue harus kayang sambil bilang preeettt gituuu?! --"
aku tau space dementia pertama kali dari lagunya pacarku yang udah gak asing lagi di telinga kawan semua.
My Lovely Bellamy
Ituuu.....tuuuuuuuuuuuuhhh...
si Bang Mamat tukang jual siomay. hohoho, bukan dink. itu lho, frontliner-nya MUSE : Si "Lovely Matthew James Bellamy" pacarku yang super duper keren, baik, pinter, suka menolong sesama dan rajin membantu mama... huakhakhak *tampol wajan
lagunya ya judulnya Space Dementia. para pecinta MUSE pasti semua tau lagu ini...bagi yang gak tau, yaudah beli sana sekalian sama tempenya...

Nih, simak yaa tentang Space Dementia :

# Versi Ngasal
Space Dementia secara simpel bisa diartikan sebagai kondisi psikologi yang sering dialami oleh astronot ketika berada di ruang angkasa. Bisa dibilang astronot punya kecenderungan buat stres kalo lama-lama di luar angkasa akibat perasaan kesepian dan terisolasi. Ini adalah kondisi jiwa di mana kita sendirian di tempat yang gelap dengan atmosfer kesunyian luar biasaaaaaaa... *uji nyali...uji nyali

# Versi Agak Ilmiah 
“A disease characterized by mental instability and irrational behavior. Typically, its onset is seen only in those people who have a natural predisposition to the disease and only after they enter outer space. There are no known ways of detecting space dementia prior to space travel. Only mild cases of space dementia have been reported as of yet, and as a result some have postulated that the disease does not actually exist. However, due to the small sample size of people who have spent time in outer space, medical experts have not yet ruled out the existence of the disease.” <---- ngerti?
Kalo mau lebih jelasnya bisa liat di http://www.abovetopsecret.com/forum/thread270321/pg1

# Versi Matthew Bellamy – MUSE
kalo versi bang Mamat, katanya Space Dementia itu perasaan kangen yang sangat dalam kepada orang yang dicintai dan ga bisa ketemu dalam waktu yang lama. Bang Mamat juga nambahin kalo lagu ini menceritakan dirinya yang mengalami keadaan Space Dementia ketika melihat foto orang yang dicintai tapi ga bisa ketemu *Haduuuh syangku, sampe segitunya kamu merana ngangenin aq (^-^)

 --- Rata-rata sih interpretasinya negatif-negatif. Penyakit, nuts, dll ---

# Versi Aku
kalo aku sih interpretasiin Space Dementia dalam arti yang mungkin lebih positif. Space Demetia buat aku itu lebih pada konsep diri, gimana kita harus bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna buat banyak orang. jadi bisa dibilang dengan kehadiran kita dalam kehidupan orang lain bisa berarti "sesuatu" buat mereka. "Sesuatu...cetaaarrr" *Syahrini mode-on
Dan saking "sesuatu-nya", orang-orang akan sangat merindukan sosok kita sehingga kalo gak ketemu diri kita dalam waktu yang lama, mereka seolah-olah merana merasakan "Space Dementia"

Begitu sodara-sodara...
Terima kasih atas kehadirannya. sekian seminar ini saya tutup, konsumsi bisa diambil di tempat yang telah disediakan...
:)


Popular Posts

Followers