Saya
termasuk salah satu orang beruntung -atau tidak, terserah- yang memiliki
kelebihan atau 'gift' yang menjadikan saya salah satu diantara banyak
orang untuk mampu lebih sensitif terhadap 'the unseen presence'. Karunia
ini saya miliki sejak kecil dan pada akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan dan
keseharian saya yang tidak biasa.
Berbeda
dengan kehidupan orang lain yang memiliki kemampuan serupa, untungnya -seingat
saya- tidak ada seorang pun yang pernah menganggap saya aneh atau gila karena
kemampuan saya, mungkin karena cerita-cerita seram justru menjadi topik yang
seru selama bergaul dengan teman-teman.
Secara
pastinya saya tidak tahu bagaimana dan kapan saya memiliki kemampuan ini, yang
jelas Papa dan Daddy-nya Mama memiliki kemampuan yang serupa. Berbedanya
lagi dengan mereka, saya adalah tipe orang yang moody dalam urusan
nyali. Kenapa? Karena kalau dipikir-pikir, saya ternyata penakut, Mblo !
:-/ Saya sering hysteria ketakutan meskipun banyak orang di sekitar
saya, sedangkan ketika lagi 'berani-beraninya', tidak ada orang secuil pun saya
santai aja meski harus melihat kepala terbang melayang dengan rambut putih
melambai-lambai.
Hiiiiiii...!!!
Hahaha,
tapi itulah saya!
Biasanya
orang dengan kemampuan seperti ini tidak lagi mengenal rasa takut, kemungkinan
terjelek paling cuma kaget sampai serangan jantung (^^)
Orang
pertama yang menyadari kemampuan saya adalah kedua ortu saya tercinta. Ya, Papa
dan Mama! Mereka sering cerita kalau waktu kecil saya sering kali menghadap ke
jendela dan berbicara atau bermain-main selayaknya orang yang sedang
tidak sendirian. Dengan sangat khawatir dan ketakutan, Mama memanggil Papa
untuk menengok saya. Ortu saya hanya mengintip dan dengan santainya Papa bilang
"Biarkan, dia memang main sama
temannya". "What?"
Mama cuma bisa terperanjat dan kemudian mereka meninggalkan saya dengan 'teman'
saya.
Tidak
banyak hal spesial dalam pengalaman saya selain ditakut-takutin [ya memang karena saya
jadi penakut belakangan ini],
kaget, meso-meso alias mengumpat -ngomong-ngomong, saya lagi belajar
mengumpat dalam banyak bahasa, nanti kapan-kapan saya posting- , dan kadang
berkomunikasi dengan mereka.
Sudah
banyak yang saya lupakan, tapi yang paling lucu adalah ketika saya dan adik
kuliah di Malang, lalu mengontrak rumah di kawasan yang ramai dan hanya
berjarak 2 rumah dari jalan raya, jauh dari kesan angker atau berhantu.
Rumahnya terkesan Homey meski tidak terlalu bagus dengan model jaman kuno
berpadu dengan hiasan batu-batuan, hampir sama dengan desain rumah-rumah kuno
yang banyak bertebaran di kawasan Malang atau Bandung. Rumahnya berpagar hijau,
banyak tanaman hias di halaman hasil dari hobi berkebun Mama meskipun dia tidak
tinggal bersama kami, dan di dalam tengah-tengah rumah juga ada taman yang
cukup besar sayangnya ditutup paving oleh sang empunya rumah. Saat
memasuki area depan, aksesnya adalah pintu garasi -juga berwarna hijau soft
seperti telur asin- dan pintu utama yang berjejer dengan jendela besar seperti
etalase yang full menutup area itu -nyaris tidak berdinding-. Rumah yang
aneh menurut saya karena makin ke belakang terutama mengarah ke taman dalam dan
dapur akan banyak melalui tiang-tiang -Lha kok kayak Rumah Sakit- (-.-")
Malam
pertama menempati rumah itu, saya tidur sendirian di kamar pribadi saya. Saya
melihat Mama tiba-tiba tertidur di samping saya, dan saya sempat mengarahkan
pandangan ke jendela kamar karena seperti ada pergerakan dari sana.
Nothing.
Tidak
ada apa-apa, hanya saja tiba-tiba banyak kabut tebal seperti di daerah
pegunungan atau seperti kalau rumah lagi di-fogging untuk ngilangin
nyamuk Aedes Aegepthy [bener
gak nih tulisannya?] Saya
balikkan badan dan mencoba kembali tidur.
Tapiii...
Saya
menangkap lagi sekelebat bayangan di jendela seperti mengintip dan dia akan
menunduk kalau saya melihat ke arahnya.
Mathefakka! Ini pasti maling!
Dengan
hati-hati, saya celingukan lagi di jendela.
Nothing.
Fu*k! Ini maling belajar ilmu ninja dimana?
Tiba-tiba
Mama bangun dan bertanya "Ada apa?". Saya jawab, "Gak tau, Ma. Kayaknya ada
orang deh, takutnya maling..." Mama kembali ngorok dengan pulasnya karena tidak kuat menahan
kantuk. Grok grok grok.
Persis suara orang nyapu-nyapu atau ngaduk semen. Saya berbalik badan lagi
ingin kembali meneruskan mimpiin cowo ganteng, saat tiba-tiba..
Ada
sepasang tangan bergelantungan di jendela saya, hanya dengan jari-jarinya yang
terlihat.
Gotcha! I Got U, Ling... Maling! Tak bikin
ngupil entar jarimu! Geraaaam!!
Kembali
saya menghampiri tuh maling dan bersembunyi di bawah jendela untuk
mengagetkannya.
HA!
Kagetnya
saya ketika si maling ini tiba-tiba menampakkan kepalanya dan berwujud sosok
ibu-ibu lengkap dengan roll rambut seperti emak-emak yang mau tidur
dengan masker putih atau kuning menutupi wajahnya. Dan...
Wajahnya
PERSIS tante saya yang tinggal di Ambon!
"TANTE! Ngapain disini? Dasteran pulak?! Minggat, Te? Niat banget
minggat dari Ambon ke Malang..."
Belum
selesai meneruskan omongan, tiba-tiba sosok itu mencekik leher saya dan meracau
dengan kata-kata yang susah saya mengerti. Gak tau ngomong apaan. Sabar, nanti
saya kursus bahasa persetanan dulu yah! Biaya kursusnya 15.000 daun kering kan?
Ok, banyak! Saat itu juga saya mengerti kalau sosok ini bukan manusia.
Sesak.
Gak bisa napas.
Panas.
Hilfen!
Tidak
tau setannya setan mana lagi yang merasuki saya, tapi langsung terbersit di
pikiran saya 'Saya Harus Membela Diri!' Saya obrak abrik roll-roll'an
rambutnya. Semakin saya acak-acak, semakin panik dia. Haha! Sekuat tenaga saya
obrak abrik roll rambutnya dan sosok ini makin bingung dengan satu
tangan mencekik leher saya dan tangan satunya sibuk membetulkan roll
rambut yang acak-acakan. Hantu ternyata takut make up rusak juga
rupanya! XD Setan apa pula yang merasuki saya lagi, bukan semakin takut tapi semakin
timbul niat jahat buat usilin sang hantu. Setengah jijik dan iseng, saya
masukkan jari telunjuk dan jari tengah ke dua buah lubang hidungnya.
Ekspresinya?
Dia
melotot ke arah saya dengan tatapan yang menyeramkan.
Manjur!
Dia langsung melepaskan satu tangannya yang mencekik leher saya, menepis jurus
colokan hidung PatKay saya, kemudian Puffh, hilaaaaaang!
Tiba-tiba
saya terbangun dengan cucuran keringat, napas tersengal-sengal, dan memar di
leher.
Mimpi!
Yes,
Beibeh! Its just a weirdo dream.
Tapi
itu bukan mimpi biasa.
Sebenarnya
ada satu hal unik yang sering saya alami ketika pindah rumah, kost, kontrakan
selama saya kuliah di Malang, yaitu biasanya hari pertama saya akan mendapat
mimpi dari beliau-beliau penunggu rumah tersebut. Ada yang kocak, ada yang
menyeramkan. Ada sosok yang menakutkan, ada juga yang ganteng ngalah-ngalahin
artis Hollywood.
Yap!
Itulah
dunia saya, yang saya sebut dunia Coraline. Seperti judul film Coraline
tentang anak yang tidak puas dengan kehidupannya di dunia nyata, dan ketika dia
mendapat kepuasan di dunia lain, dia baru saja menyadari betapa bersyukurnya
memiliki hidup... yang nyata.
Saya
banyak ketidakpuasan dalam hidup, tapi saya mau hidup dengan orang yang
sebenar-benarnya -Orang Beneran-